Hujan
(HU) j a n
Oleh Pena Pejalan
Duduk termenung, pejalan lelah meniti tapak Illahi.
Sembari beradu nafas dalam cawan zatullah, bait-bait magis dari bibir Ibrahim & Muhammad menyatupadu dalam diri.
Apalah yg lain, kalau Hu lebih leluasa menggerakan.
Apalah yg lain, kalau gerakgerik adalah manifestasi dari satu pikiran komando.
Apalah yg lain, jika mukim jiwa kita labur dalam Nur Muhammad.
Apalah yg lain, jika firasat kita Esa.
Aku seperti tersesat dari keramaian yang alpa nurani,
Mencuri waktu, menyendiri menatap yang asli.
Bukan asketisme yang gemar mengisolasi diri.
Apa mungkin sejatih kalau terpisah dari nafsi-nafsi?
Apa mungkin selamat kalau menenteng Al Misbah, menerangi setapak sendiri?
Apa mungkin bahagia kalau derita yang lain memberi getar pada hati?
Hingga akhirnya, hujan malam ini tak sia-sia. Bunyi-bunyi, rintiknya menggoda tafakur bagi seorang pejalan!
Komentar
Posting Komentar