Firaun Masa Kini & Posisi Kita?
Firaun Masa Kini & Posisi Kita?
Oleh Sulatin Dajumade
Pernah terjadi di zaman b . Di zaman para nabi. Penguasa kerja sama dengan penyihir melanggengkan kekuasaannya. Sebut saja, zamannya nabi Musa melawan penguasa mesir bernama Firaun. Firaun merasa tidak cukup dengan mengandalkan bala tentaranya, para penyihirnya pun direkrut kedalam istana untuk memperkokoh kekuasaanya (status quo).
Kekuasaan yang dipertahankan dengan segala cara bahkan menghalalkan segala cara adalah tidak baik. Apa lagi, merasa diri menjadi TUHAN seperti yang dialami oleh Firaun laknatullah. Sejarah kelam tentang kezaliman Firaun dan perlawanan nabi Musa AS sudah jamak kita ketahui. Saya sendiri mengingat sejarah tentang Firaun seperti mengingat masa kecil lagi. Masa menjadi anak sekolah dasar yang disetiap malamnya menjelang tidur selalu mendengar dongeng atau cerita (nengon) pengantar tidur yang diceritakan Ayah. Kebanyakan tema dongeng yang diceritakan adalah kisah 25 Rasul dan Nabi. Salah satu yang merasuk dalam ingatan (long term memory) adalah kisah Nabi Musa melawan Firaun.
Berkaitan dengan sejarah, seorang filsuf bernama Heraclitus pernah berkata bahwa sejarah itu seperti sebuah lingkaran. Maksudnya, peristiwa sejarah secara makna tidak pernah selesai, selalu berkisanambungan. Meskipun, aktor dan latar tempat peristiwa sejarah itu berbeda. Makna atau spiritnya bahkan muantan konfliknya tetaplah sama. Dengan demikian, sejarah Nabi Musa AS melawan Firaun secara aktual tetap menyejarah.
Sudah menjadi rahasia umum, bagi kita pola melanggengkan kekuasaan, penguasa bekerjasama dengan penyihir masih ada dikehidupan kita. Lihatlah lingkungan kita sekitar, periksalah keadaan masyarakat dan pemerintah kita. Penguasa hari ini yang berhasrat mempertahankan jabatan dan kekuasaan dengan berkongsi atau menyewa penyihir adalah Firaun masa kini. Firaun modern. Watak dan hasrat zalimnya seperti Firaun laknatullah. Inilah persolan yang kita hadapi pada hari ini. Persoalan yang membutuhkan posisi dan sikap kita sebagai insan yang beriman. Sikap dan posisi kita bergantung pada kesadaran yang kita miliki. Apakah kita membaca sejarah tersebut melibatkan kesadaran kita?
Adalah Paulo Freire, seorang filsuf pendidikan asal Berazil membagi kesadaran manusia dalam melihat persoalan, yaitu; kesadaran magis, kesadaran naif, dan kesadaran kritis. Kesadaran magis melihat kondisi sosial sebagai suatu keniscayaan yang ditakdirkan oleh kekuatan magis/Tuhan. Peran merubah keadaan dititikberatkan kepada Tuhan. Berbeda dengan kesadaran naif, mereka menyadari adanya ketimpangan sosial yang disebabkan oleh manusia, tetapi apatis, acuh tak acuh, malas dan penakut mengambil inisiatif dalam perubahan. Yang terakhir adalah kesadaran kritis. Inilah puncak kesadaran. Pada kesadaran ini manusia tidak saja mengetahui secara mumpuni persoalan kehidupan, ia menjadikan pengetahuannya sebagai landasan dan kekuatannya dalam bergerak menuntut perubahan.
Kesadaran apa yang kita pakai melihat persoalan penguasa zalim ala Firaun masa kini? Bagaimana posisi kita dihadapan penguasa yang berkerjasa dengan penyihir?
Musa As adalah sosok yang seharusnya menjadi role model/panutan bagi kita. Musa adalah pemuda yang memiliki kesadaran kritis dalam melihat kondisi sosial disekitar. Lalu, menyuarakan tuntutan perubahan kepada penguasa Mesir Firaun tanpa merasa takut dibunuh oleh balatentara Firaun dan barisan penyihir istana.
Musa menjadi juru bicara bagi kaumnya yang mengalami penindasan dibawah kepemimpinan Firaun. Musa adalah nabi yang diutus oleh Allah SWT untuk menegakkan tauhid. Tauhid yang tidak hanya dipahami (awam) sebagai pernyerahan total kepada Allah saja, akan tetapi sebuah tauhid sosial yang memperjuangkan keadilan, kemakmuran dan persaudaraan. Walaupun, Musa As dibekali mukjizat oleh Allah SWT ketika melawan Firaun dan penyihirnya berupa tongkat yang dapat membela lautan dan berubah menjadi ular raksasa. Tetapi, saya melihat ada persamaan Musa As dengan kita yang ingin melawan penguasa zalim seperti Firaun, yaitu; tauhid, semangat, keberanian, argumenrasi, dan solidaritas. Inilah senjata Musa As melawan Firaun. Dan senjata ini dapat pula kita miliki.
Akhirnya, dengan bermodalkan senjata-senjata itu lawan dan tumbangkan penguasa zalim ala Firaun masa kini. Mari, warisi api tauhid perlawanan Nabi Musa As.
Komentar
Posting Komentar